Saya berdiri di dalam Pendopo Desa Jabung pagi itu, 5 Mei 2026, ditemani angin dingin Magetan yang bebas masuk pendopo membawa embun pagi. Tangan masih terasa kaku setelah melewati ketinggian 1080 mdpl di wilayah Cemara Kandang, Gunung Lawu, sebelum akhirnya turun ke Desa Jabung, pada ketinggian sekitar 550 mdpl. Tiga puluh warga desa — 23 laki-laki dan 7 perempuan — sudah berkumpul dengan pakaian seragam oranye bertuliskan “DESTANA”.
Acara Pembentukan Desa Tangguh Bencana dimulai dengan menyanyikan
Indonesia Raya dan Mars Tangguh, saya merasakan getar yang sulit
dilupakan. Bukan karena dingin yang menusuk, melainkan nyanyian pembuka yang
memompa semangat peserta, sekaligus menyiratkan campuran harapan dan ketakutan
yang selama ini mungkin mereka pendam dalam diam ketika berbicara soal bencana.
Pak Wito, Kepala Desa, dengan suara tenang membuka acara
dengan cerita tentang tanah di Dusun Karang yang pernah “bergerak” pelan-pelan.
Ibu-ibu dari Dusun Jabung bergantian bercerita soal angin kencang di Taman
Wisata Desa yang membuat pohon-pohon besar bergoyang liar. Suasana mulai berat. Tapi justru di situlah ilmu
pertama dari desa ini muncul. Seorang bapak dari Dusun Gondang angkat bicara pelan,
“Kami sudah biasa takut, Mas. Tapi takut sendirian jauh lebih berat.” Kalimat
sederhana itu mengajarkan saya bahwa mengakui kerentanan adalah langkah pertama
menuju ketangguhan.
Hanna Illi Yani,
co-fasilitator saya yang masih muda dan penuh semangat dari Mahagana UNAIR membantu
menjaga suasana tetap ringan dengan ice breaking sederhana yang lucu
namun edukatif. Tapi yang paling kuat justru suara-suara warga Jabung
sendiri. Mereka bukan peserta yang pasif, melainkan guru-guru yang mengajarkan
ilmu sesungguhnya tentang desa mereka.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti sungai yang mengalir pelan namun penuh hikmah. Kami berjalan menyusuri empat dusun. Di lereng rawan longsor, seorang peserta menunjuk pohon yang akarnya sudah terlihat dan berkata dengan bijak, “Ini yang selama ini menahan tanah kami, Mas. Bukan tembok beton, tapi akar-akar yang saling berpegangan.” Di bawah tebing yang mengancam longsor, ibu-ibu melihat rumah-rumah tetangga dan langsung mengusulkan titik kumpul yang aman untuk anak-anak dan lansia. Ilmu lapangan mereka jauh lebih hidup daripada teori mana pun.
Kembali ke balai
desa, mereka berlutut di lantai dengan kertas plano lebar. Bukan kami yang
menggambar, tapi mereka sendiri yang berdebat seru menentukan jalur evakuasi.
“Jangan lupa Mbah Siti yang susah jalan,” kata salah seorang peserta. Dari
coretan spidol warna-warni itu lahir peta risiko yang penuh jiwa — bukti bahwa
ilmu terbaik adalah ilmu yang lahir dari kepedulian terhadap sesama.
Semangat terus membara saat mereka menyusun Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) dan Rencana Aksi Komunitas (RAK). Seorang ibu rumah tangga dengan suara pelan tapi tegas berkata, “Kita jangan bikin program yang hanya cantik di kertas. Harus yang bisa dikerjakan besok juga.” Pemuda-pemuda mengusulkan gotong royong membersihkan saluran air, sementara para bapak membahas penanaman pohon pencegah longsor. Mereka membentuk Forum PRB Desa dan Tim Siaga Bencana dengan sembilan sektor. Seorang bapak yang merupakan petani dan rajin ke kebun ditunjuk sebagai koordinator Sistem Peringatan Dini karena warga tahu, “Dia yang paling cepat tahu kapan terjadi rekahan tanah ketika hujan deras mengguyur desa.”
Di sesi Sistem Peringatan Dini, warga melakukan permainan
pesan berantai. Pesan “Hujan deras sudah dua hari, lereng Karang retak, bersiap
evakuasi” berubah-ubah jadi “Longsor, warga lari sekarang!” hingga seluruh
ruangan penuh tawa. Dari tawa itu, mereka sendiri menyimpulkan pentingnya pesan
yang jelas, sederhana, dan sampai ke semua orang — termasuk lansia dan difabel.
Lagi-lagi, ilmu itu datang dari mereka.
Salah satu momen paling berkesan adalah saat sore hari, setelah salah satu sesi selesai. Warga mengajak kami ke kebun durian milik salah seorang peserta. Di bawah pohon-pohon tinggi, kami duduk lesehan di atas tikar sambil menikmati durian panen segar yang baru jatuh. Kulit tangan lengket, mulut penuh rasa manis legit, sambil bercanda ringan. Di saat itulah obrolan paling dalam muncul — tentang mimpi mereka untuk desa yang tak lagi gentar setiap musim hujan, tentang anak cucu yang bisa tumbuh dengan aman. Di antara aroma durian dan tawa lepas, saya belajar bahwa ketangguhan sejati juga dibangun lewat kebersamaan sederhana seperti ini.
Di akhir perjalanan, saat Penilaian Ketangguhan Desa (PKD),
Jabung mendapat skor 63 — kategori Madya. Angka itu bukanlah yang tertinggi,
tapi sangat membanggakan. Di baliknya ada warga yang berani mengakui
kerentanan, lalu bangkit mencari kekuatan bersama. Ada perempuan yang semakin
lantang bersuara, pemuda yang mulai peduli, dan semangat gotong royong yang
kembali menjadi denyut nadi desa.
Saya pulang dari
Jabung dengan hati penuh syukur. Ternyata ilmu paling berharga bukan datang
dari buku tebal atau slide presentasi, melainkan dari desa itu sendiri. Desa
mengajarkan bahwa ketangguhan bukan soal tidak takut, tapi soal berani
menghadapi ketakutan bersama. Bukan soal sempurna, tapi soal saling melengkapi.
Terima kasih, Desa Jabung. Kalian bukan hanya peserta program. Kalian adalah gurunya.
Tanggap, Tangkas, Tangguh !!!
-PW- @2026




إرسال تعليق