Magetan, 26 Oktober 2026 | Kebanyakan orang, lebih mengenal Gunung Lawu sebagai tempat wisata yang sejuk dan asri dengan ketinggian kurang lebih 3000 mdpl. Ada Tawangmangu, Cemoro kendang, Cemoro Sewu hingga Telaga Sarangan. Di timur gunung Lawu, kurang kebih duapuluh kilometer arah timur laut, berdiri sebuah bukit yang oleh warga setempat disebut Gunung Bancak. Konon, menurut legenda yang masih hidup di masyarakat, gunung bancak adalah puncak Lawu yang terlempar ke arah timur laut akibat tendangan Hanoman yang sedang murka. Kemarahan karena kerakusan manusia yang hendak menggapai kahyangan menggunakan puncak Lawu sebagai pijakan. Hanoman menggagalkan upaya tersebut dengan menendang puncak Lawu hingga terlempar ke arah timur laut dan menjadi bukit baru yang kemudian di namakan Gunung Bancak.
Legenda itu hidup di masyarakat sebagai
cerita turun - temurun, tetapi bumi menyimpan catatan yang berbeda—dan catatan
itu jauh lebih tua. Dalam sejumlah kajian geomorfologi dan geowisata yang
dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Magetan, Gunung Bancak tidak dimasukkan
sebagai bagian dari tubuh Gunung Lawu. Ia berdiri sendiri sebagai “Bukit Terisolir Bancak”, sebuah satuan
geomorfologi tersendiri di antara dataran lahar Lawu dan satuan-satuan
gunungapi Kuarter. Batuan penyusunnya pun bukan batuan Lawu muda. Bancak terisi
lava andesit-basal dan breksi vulkanik yang diendapkan sekitar 23 hingga 16
juta tahun lalu, pada kala Tersier. Sementara Gunung Lawu yang menjulang
sekarang adalah gunungapi Kuarter, jauh lebih muda.
Artinya, Bancak tidak mungkin
merupakan “puncak Lawu yang terlempar”. Usianya terpaut belasan juta tahun dari Lawu yang kita lihat hari ini. Yang
lebih masuk akal secara geologis: Bancak adalah sisa dari tubuh gunungapi purba
yang lebih tua, terpisah dari kompleks Lawu, dan bertahan karena batuannya
relatif lebih tahan terhadap pelapukan. Proses yang bekerja bukan tendangan
Hanoman, melainkan erosi diferensial—air, angin, dan waktu yang mengikis bagian
yang lebih lunak di sekitarnya, menyisakan bagian yang lebih keras sebagai
bukit terisolasi. Bancak adalah saksi vulkanisme Tersier yang bertahan lama
setelah tubuh induknya terkikis dan menghilang. Pada era Mataram Islam, wilayah
Gunung Bancak masuk dalam wilayah perdikan Kasultanan Yogyakarta. Sehinga di puncaknya,
terdapat Makam Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Maduretno, putri Sri Sultan
Hamengkubuwono II, bersama suaminya, Raden Ronggo Prawirodirjo III. Mereka
berdua adalah orang tua dari Sentot Alibasyah Prawirodirjo, yang merupakan
tangan kanan Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Penjajah Belanda. Maduretno
adalah perempuan yang memilih berdiri di tengah badai zaman, menolak tunduk
pada penjajah, dan akhirnya beristirahat di tanah yang sekarang disebut
Giripurno. Dari nama lama Girisampurna, gunung yang sempurna, menjadi
Giripurno. Dan kini, di sanalah Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten
Magetan, pada tanggal 22–25 Oktober 2026 menulis babak baru dalam kehidupan
warganya.
Desa Giripurno terdiri dari empat dusun—Babak, Santren, Soco, dan
Suci—dengan lebih dari dua ribu lima ratus jiwa penduduk yang tersebar di dua
puluh dua Rukun Tetangga. Alamnya indah, tapi juga penuh tantangan. Tiga
ancaman utama selalu mengintai: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mudah
menyala di musim kemarau, angin kencang yang mampu merobohkan pohon dan
mengangkat atap rumah, serta banjir bandang yang sering diikuti longsor begitu
hujan deras datang. Kamis pagi 22 Oktober 2026, warga desa itu berkumpul. Bukan
untuk pesta panen atau pernikahan, tapi untuk sesuatu yang lebih dalam
membicarakan masa depan desa : membentuk Destana, Desa Tangguh Bencana. Mereka
datang dengan wajah gembira dan hati yang terbuka. Saling sapa dan salaman
mewarnai aktivitas pagi ketika bertemu. Keakraban yang cepat dibangun meskipun
dengan pendatang baru. Ketangguhan bukanlah hal baru buat warga Giripurno,
karena wilayah ini pernah dijaga oleh Maduretno dari berbagai ancaman.
Hari Pertama: Kamis, 22 Oktober 2026
Pagi itu langit cerah, matahari musim kemarau sudah terasa hangat sejak
pagi. Pukul delapan, halaman balai desa sudah ramai orang berdatangan. Acara
resmi dibuka oleh Kepala Desa Giripurno, didampingi Kepala Pelaksana BPBD
Kabupaten Magetan Eka Radityo, serta perwakilan BPBD Provinsi Jawa Timur
Andhika N. Sudigda, ST, M.Si. Indonesia Raya dikumandangkan, lalu Mars Tangguh
bergema. Suara warga yang belum terbiasa menyanyi lagu itu terdengar agak
sumbang, bahkan ada yang pura-pura nyanyi dengan menggerakan bibir, tapi tetap
penuh semangat. Sambutan-sambutan mengalir dengan bahasa sederhana di selingi
guyonan. Lalu kontrak belajar dibuat. Semua setuju: belajar sama-sama, kerja
sama-sama, bertanya sama-sama. Tidak ada guru dan murid. Semua orang adalah
guru, alam raya adalah sekolahnya.
Sesi pengantar kajian risiko dimulai. Fasilitator lebih banyak bertanya.
“Apa saja ancaman yang sering kita hadapi di sini, apalagi di musim kemarau
begini?” Pertanyaan itu memancing jawaban dari berbagai sudut. Ada yang bilang
kebakaran hutan dan lahan. Ada yang bilang angin kencang yang sering merobohkan
pohon. Ada yang bilang banjir bandang yang diikuti longsor begitu hujan datang.
Diskusi kelompok terbentuk. Kertas besar dibentangkan. Spidol berpindah-pindah
tangan. Orang tua yang biasanya hanya diam di rumah sekarang mengalir cerita
sejarah bencana desa, sebab dan akibatnya buat desa. Perempuan yang lebih muda
sibuk mencatat dalam kertas plano.
Dari diskusi itu lahirlah langkah penting: pemetaan risiko partisipatif.
Warga bersama-sama menelusuri kerentanan dan kapasitas desa. Ada yang mengingat
titik-titik rawan karhutla di hutan rakyat, ada yang menandai lereng yang mudah
longsor, ada yang mencatat sumber air yang mulai surut di musim kemarau.
Perlahan, Peta Risiko Bencana Desa Giripurno terbentuk di atas kertas besar
itu—bukan peta sempurna dari komputer, melainkan peta hidup yang digambar
tangan warga sendiri. Peta itu menjadi fondasi awal strategi kesiapsiagaan
komunitas. Setiap garis, setiap tanda, menyimpan pengetahuan lokal yang selama
ini hanya tersimpan di kepala orang-orang tua.
Siang hari, ISHOMA. Makan siang sederhana, nasi, sambal, tempe, dan ayam
goreng. Banyak yang duduk di lantai, ngobrol sambil makan. Ada yang bercerita
tentang pengalaman kebakaran tahun-tahun lalu di musim kemarau. Ada yang
mengingat bagaimana api cepat merambat di hutan rakyat yang kering. Suasana
cair. Tidak ada jarak.
Dan di tengah semua itu, asap tipis terlihat dari arah Gunung Bancak. Kebakaran hutan rakyat di lereng. Api kecil, tapi di musim kemarau begini, bisa cepat merambat di rumput dan daun kering. Warga yang sedang diskusi, sebagian langsung bergerak menuju puncak gunung Bancak. Tidak ada panik. Ada yang mengambil ranting pohon yang masih basah, ada yang menelpon Damkar terdekat, ada yang menghubungi orang-orang di dusun sekitar kebakaran, ada yang membuat sekat bakar di sekitar agar api tidak menyebar. Dalam waktu yang tidak lama, api bisa dipadamkan. Tidak ada yang terluka. Tidak ada yang besar. Tapi kejadian itu seperti ujian kecil yang datang tepat waktu. “Lihat,” kata seorang tokoh masyarakat sambil tersenyum, “kita baru belajar Destana, tapi sudah bisa bergerak bersama.” Banyak yang mengangguk. Seolah alam sedang menguji, dan mereka lulus di hari pertama.
Hari Kedua: Jumat, 23 Oktober 2026
Hari kedua pukul delapan sudah
mulai lagi. Penilaian Ketangguhan
Desa (PKD) dibahas. Warga diminta mengukur sendiri: seberapa siap kita
sebenarnya menghadapi karhutla, angin kencang, dan banjir bandang yang diikuti
longsor? Banyak yang terkejut. Ada yang merasa sudah siap, tapi setelah ditanya
detail, ternyata masih banyak lubang. Diskusi menjadi hangat. Tidak ada
yang saling menyalahkan. Hanya saling melengkapi.
Lalu Rencana Penanggulangan Bencana
(RPB). Fasilitator memberi pengantar
singkat, lalu warga berdiskusi intens. Kelompok-kelompok terbentuk lagi. Ada
yang fokus pada sebelum bencana, ada yang fokus pada saat terjadi, ada yang
fokus pada setelah. Hasilnya dipaparkan. Banyak usulan yang praktis pencegahaan
dan mitigasi agar tidak terjadi bencana.
Sistem Peringatan Dini (SPD) dibahas. Bagaimana cara memberitahu
warga secepat mungkin? Kentongan? Pengeras suara masjid? WhatsApp group? Atau
kombinasi? Diskusi panjang. Akhirnya disepakati mekanisme yang paling mungkin
dilakukan di desa. Tidak usah yang canggih kalau tidak bisa dijalankan. Yang
penting bisa jalan, terutama kalau ada asap atau api di hutan rakyat, atau
angin mulai kencang.
Rencana Evakuasi Desa. Jalur mana yang aman? Titik kumpul di mana? Siapa
yang bertanggung jawab di setiap dusun? Peta yang kemarin dibuat sekarang
dilengkapi dengan garis-garis jalur. Ada yang mengusulkan titik kumpul di rumah
kepala dusun, ada yang usul di masjid, ada yang usul langsung di Balaidesa. Semua
di catat. “Pendekatan partisipatif ini memastikan bahwa rencana penanggulangan
dan evakuasi yang disusun benar-benar aplikatif,” kata fasilitator. Warga
mengangguk. Mereka merasa dimiliki, bukan disuruh.
Siang hari lagi ISHOMA. Banyak yang sudah akrab. Ada yang saling
bercanda. Ada yang masih serius membahas peta. Sore hari, hasil-hasil
dipaparkan lagi. Suasana semakin
padu. Orang yang kemarin diam sekarang sudah berani bicara. Orang yang kemarin
banyak bicara sekarang gantian belajar mendengarkan.
Hari Ketiga: Sabtu, 24 Oktober 2026
Hari ketiga adalah hari kelembagaan dan keterampilan. Rencana Kontinjensi
(Renkon) dibahas. Situasi darurat ancaman spesifik dibayangkan: kalau kebakaran
hutan rakyat di lereng Bancak, bagaimana? Diskusi menjadi lebih detail
difokuskan pada ancaman tunggal Karhutla sebagai Rencana Kontinjensi. Warga
mulai membayangkan peran masing-masing.
Lalu puncaknya: pembentukan Forum
Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Tim Siaga Bencana (TSB) Desa Giripurno. Ini bukan sekadar pembentukan. Ini
peresmian kelembagaan. Nama-nama dipilih. Struktur dibuat. Siapa ketua, siapa
sekretaris, siapa yang fokus pada peringatan dini, siapa yang fokus pada
logistik, siapa yang fokus pada relawan. Semua dari warga sendiri. Tidak ada
orang luar yang dipaksakan. Forum ini milik desa.
Praktik Pertolongan Pertama (PPGD) menjadi sesi yang paling ramai.
Fasilitator dari TRC BPBD Magetan memberi materi singkat diselingi canda tawa
agar tidak mengantuk, lalu praktik langsung. Bagaimana membalut luka,
bagaimana menolong orang pingsan, bagaimana membawa korban dengan aman. Warga
bergiliran. Ada yang kaku di awal, lalu tertawa sendiri karena salah posisi.
Ada yang sudah terampil karena pernah jadi kader Posyandu. Suasana jadi cair.
Tertawa bercampur serius. “Ini penting,” kata seorang ibu, “kalau ada yang
jatuh di sawah atau di gunung, kita harus bisa bantu dulu sebelum bantuan
datang.”
Hari Keempat: Minggu, 25 Oktober
2026
Hari terakhir. Semangat “membuahkan perubahan” menjadi tema. Pagi
hari, penyusunan skenario simulasi. Warga membayangkan kejadian seolah-olah
benar terjadi. Siapa yang berperan apa. Siapa yang jadi korban, siapa yang jadi
penolong, siapa yang jadi komando. Semua terlibat.
Lalu aksi lingkungan: penanaman
pohon buah. Bibit-bibit dibawa untuk ditanam di beberapa titik. Bukan sekadar seremoni. Warga menggali lubang
sendiri di tanah yang kering, menanam sendiri, menyiram sendiri. “Ini mitigasi
jangka panjang,” kata seseorang. “Akar pohon akan menahan tanah. Buahnya nanti
bisa dinikmati anak cucu. Dan di musim kemarau begini, pohon yang tumbuh akan
membantu menjaga kelembaban.” Banyak yang tersenyum. Ada yang berdoa pelan saat
menanam.
Simulasi lapang menjadi puncak. Skenario dijalankan. “Kebakaran di hutan
rakyat lereng Bancak!” Teriakan itu membuat semua bergerak. Ada yang berlari ke
titik kumpul, ada yang membantu “korban”, ada yang menghubungi, ada yang
mengatur lalu lintas. Meski masih banyak yang tertawa karena kekacauan
kecil—ada salah satu peserta yang hilang dan dicari kemana-mana tidak ketemu hingga
ada yang emosi—namun semangatnya tinggi. Mereka menjalani simulasi dengan
gembira. Bukan karena main-main, tapi karena merasa bahwa ini milik mereka.
Evaluasi dilakukan. Apa yang sudah bagus, apa yang masih perlu diperbaiki.
Semua terbuka.
Akhirnya, pengukuhan FPRB. Prosesi deklarasi ketangguhan desa dibacakan.
Foto bersama diambil. Banyak yang basah matanya. Bukan karena sedih, tapi
karena terharu ketika Hymne Bakti Pertiwi dinyanyikan. Empat hari yang padat,
tapi terasa singkat. Mereka datang sebagai warga biasa, pulang sebagai warga
yang lebih siap, lebih percaya diri, lebih saling percaya.
Desa Giripurno kini punya FPRB. Punya rencana. Punya peta. Punya
jalur. Punya tim. Tapi yang paling berharga, punya kesadaran kolektif bahwa
mereka tidak sendirian. Maduretno di atas gunung seolah tersenyum. Tanah yang
pernah dilindungi oleh semangat perjuangan melawan Belanda, sekarang dilindungi
oleh semangat gotong royong warga sendiri.
Empat hari itu bukan akhir, namun justru awal. Destana Giripurno
sudah lahir. Sekarang tinggal
dirawat. Dengan tangan yang kotor karena kerja. Dengan hati yang bersih karena
kebersamaan. Dengan doa yang terus mengalir dari kaki Gunung Bancak sampai ke
setiap rumah di desa menjadi Keluarga Tangguh Bencana. Semoga. (PR-170)






Post a Comment