GEDSI dalam vaksinasi covid-19 di Kabupaten Pati

Korim Puskesmas Cluwak, Endriana I.P dalam door to door menjangkau penerima manfaat yang kesulitan akses mendapatkan vaksinasi covid-19

Pati, bolodesa.id. Kabar gembira dari World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia yang mencabut status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) untuk COVID-19 pada Jumat (5/5/2023). Dua tahun lebih seluruh warga dunia hidup dalam ancaman virus yang mematikan. 

Merespon keputusan WHO, Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Mohammad Syahril mengatakan, Kementerian Kesehatan RI telah menyiapkan skema transisi untuk segera mengakhiri kedaruratan Covid-19 dengan tetap mengedepankan kesiapsiagaan dan kewaspadaan. Dan WHO juga menegaskan perlunya masa transisi untuk penanganan Covid-19 jangka Panjang” 

Sementara di masyarakat, Tya Vionita, aktifis Trans-Puan dari komunitas Roro Mendut yang selama ini sangat militant sebagai relawan dalam pendampingan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Pati mengatakan, “Kita semua tentu gembira mendengarnya, karena hal ini yang kita semua harapkan sejak lama, namun saya setuju dengan sikap pemerintah yang tetap menyiapkan proses transisi jangka panjang, melihat realitas di lapangan khususnya kabupaten Pati, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan vaksin ke 3 dan ke-4, atau booster 1 dan 2 khususnya kelompok rentan penyandang disabilitas tertentu. Dengan memastikan kesehatan kelompok rentan mendapatkan vaksinasi, kita berharap pandemi covid-19 tidak datang lagi.

Pendapat Tya Vionita sangat beralasan karena selama sembilan bulan ini banyak melakukan pendampingan program vaksinasi covid-19 bagi kelompok rentan yang diinisasi oleh Australia – Indonesia Health Security Partnersip (AIHSP) melalui Save the Children dan Migrant CARE bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Pati serta Organisasi Masyarakat Berbasis Komunitas maupun Organisasi Masyarakat Sipil di Kabupaten Pati.

Ditemui di sela – sela kegiatan vaksinasi covid-19 bagi kelompok rentan disabilitas yang masih berlangsung di Desa Plaosan, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati pada Jum├ít 12/05/2023, lebih lanjut Tya berpendapat bahwa masalah pandemik bukan sekedar disuntik vaksin dan selesai, butuh pemahaman ke masyarakat untuk perubahan perilaku menuju pola hidup sehat agar lebih tangguh dalam menghadapi ancaman penyakit yang lain, khususnya bagi kelompok rentan dan disabilitas yang selama ini belum mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar. Jadi pendekatan GEDSI dibutuhkan dalam mencapai pemahaman yang lebih maksimal, untuk keselamatan di masa depan. 

Pendekatan GEDSI yang dimaksud Tya adalah pendekatan berbasis Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) atau Kesetaraan hak dan peluang yang sama bagi semua orang tanpa membedakan jenis kelamin dan adanya hambatan-hambatan dalam interaksi (aksesibilitas) dengan  memampukan orang dan komunitas untuk berpartisipasi penuh dalam lingkungan sosial, budaya, ekonomi dan politik termasuk juga kesehatan di masyarakat. Pemilihan lokasi juga menjadi salah satu dalam pertimbangan pendekatan GEDSI dalam hal kemudahan akses dalam interaksi . 

Tya Vionita, membantu Korim Puskesmas Cluwak dalam giat Vaksinasi Covid-19 sensitif GEDSI

Kecamatan Cluwak secara geografis merupakan wilayah remote area di kabupaten Pati. Kecamatan terjauh dari pusat kota Pati dengan jarak kurang lebih 30 km arah utara hingga berbatasan dengan Kabupaten Jepara. Akses angkutan umum tidak sebanyak di pusat kota Pati. Kecamatan Cluwak yang terletak di kaki gunung Muria dengan kemiringan rata – rata 45°, menambah tantangan mobilitas bagi kelompok rentan meski hanya menuju Puskesmas di kota kecamatan. 

Hal ini yang melandasi untuk mendapatkan akses Kesehatan khususnya vaksin covid-19 di kecamatan Cluwak, tidak cukup hanya dilakukan dengan mini sentra di Puskesmas maupun di Balaidesa. Tapi butuh pendekatan yang lebih mudah dalam akses bagi masyarakat yakni di tingkat dusun melalui Kerjasama dengan Posyandu Lansia. Bahkan jika diperlukan dengan datang langsung ke rumah – rumah warga di tingkat RT yang tidak bisa keluar rumah karena keterbatasan akses mereka dalam mobilitas.

Koorinator Imunisasi (Korim) Puskesmas Kecamatan Cluwak, Endriana Ika Purbasari, Amd.Keb menjelaskan untuk Desa Plaosan saja membutuhkan waktu selama dua hari, mulai tanggal 11 – 12 Mei 2023 untuk bisa memberikan pelayanan kepada kelompok disabilitas dengan berbagai gangguan. Selama dua hari dilakukan baik mini sentra di Puskesmas atau dalam kegiatan posyandu di Desa hingga kunjungan dari rumah ke rumah mampu menjangkau 100 orang penerima manfaat dari kelompok rentan dengan berbagai gangguan pendengaran, gangguan penglihatan dan gangguan jalan untuk mendapatkan vaksin booster ke-2. Dari 100 penerima manfaat, XXX perempuan dan XXX laki- laki yang mayoritas sudah berusia lanjut di atas 70 tahun. 

“Cukup melelahkan, tapi harus dilakukan dengan senang hati sebagai investasi kesehatan di masa depan, karena preventif selalu lebih murah dari kuratif”, ujar Endriana Ika Purbasari. Pendapat Endri nampaknya mewakili  pendapat ribuan nakes yang hampir tiga tahun ini mengalami kelelahan ditambah risiko tinggi di garis depan dalam melawan pandemi. 

Endriana menambahkan, “Namun dengan pendekatan GEDSI dan bantuan teman – teman relawan tentu saja sangat membantu nakes, kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab kita bersama, Dan, Terima kasih buat semua yang selama ini sudah bekerjasama”, pesannya. (***)




Post a Comment

Previous Post Next Post