Dari ibukota Provinsi Jawa Timur di Surabaya menuju Desa Kendit membutuhkan waktu kurang lebih empat jam perjalanan, dengan jarak ± 207 Km. Sementara dari Desa Kendit menuju Ibukota Kabupaten Situbondo ± 10,00 Km, sementara jarak menuju kantor Kecamatan ± 0,5 Km
Suasana pedesaan yang tenang dengan sawah yang mulai menguning, bukit yang menghijau, burung beterbangan menyimpan kedamaian alam yang memikat. Namun siapa sangka ketenangan itu tiba - tiba tergugat saat alam berbicara lewat gemuruh air—datang dalam bentuk banjir bandang.
Ketika Banjir Bandang Menyergap Kendit
Pada 24 Desember
2024, hujan deras mengguyur wilayah hulu di Desa Tambak Ukir dan Rajekwesi
sejak siang hari. Dalam waktu singkat, air meluap dari Sungai Kendit Barat
alias kanal avor C9 dan menerjang permukiman, menyapu rumah dan warung warga
dengan arus deras membawa lumpur, kayu, dan sampah.
Seorang warga, Zainul Hasan menceritakan : "Sungai ini sebelumnya tidak pernah meluap. Namun dalam musim penghujan kali terjadi beberapa kali, yakni di bulan desember 2024 sebanyak dua kali dan bulan februari 2025 sekali namun cukup lama hingga 3 hari (3-5 februari) baru surut. Kalau di hitung dengan bersih bersih rumah dan fasul lebih dari seminggu. Banjir setinggi lutut orang dewasa menggenangi rumah penduduk. Tiga sapi dan satu sepeda motor terbawa arus, aliran listrik terputus. Warga sempat panik dan berlarian"
Gotong Royong sebagai Modal Awal Ketangguhan
Respon cepat segera
diinisiasi. Pemdes Kendit bersama Koramil, Masyarakat, BPBD, TNI/Polri, Tagana, dan relawan
Pramuka dan PMI menjalankan kerja bakti pembersihan lumpur dan material banjir
dari jalan, rumah, dan fasilitas umum sejak pagi hari pasca-kejadian. Dalam derap langkah yang tak seragam tapi sepakat, warga Desa Kendit memanggul harapan dengan cangkul, sekop, dan tangan mereka sendiri.
Di balik genangan lumpur yang menutup jalan-jalan desa dan rumah-rumah yang basah oleh air murka alam, tumbuhlah kekuatan yang tak kasat mata namun terasa sampai ke dada: gotong royong.
Gotong royong itu
bukan hanya kerja. Ia adalah cinta yang menjelma menjadi tenaga, adalah duka
yang diolah jadi daya. Maka desa yang sempat lunglai oleh banjir, perlahan
bangkit, tidak karena datangnya bantuan bertruk-truk, tapi karena warga
tak rela desanya tenggelam dalam diam.
Tiga bulan setelah banjir, tepatnya tanggal 21 Mei 2025, Desa Kendit memperkuat ketangguhan melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Dalam rangkaian kegiatan selama tujuh hari, perwakilan warga yang terdiri dari tigapuluh orang, didampingi oleh BPBD Situbondo, BPBD Provinsi Jawa Timur, dan fasilitator dari Sancaya Institute, bersama Pemerintah Desa Kendit menyiapkan strategi mitigasi: dari Pemetaan Risiko Bencana, Rencana Penanggulangan Bencana, Rencana Aksi Komunitas, Sistem Peringatan Dini dan Rencana Evakuasi hingga Rencana Kontinjensi.
Dari Pemetaan Risiko Bencana, banjir bandang menjadi ancaman prioritas. Faktor utama penyebab banjir bandang diidentifikasi peserta disebabkan curah hujan ekstrem di area hulu, terjadinya pendangkalan sungai oleh rumput gajah dan sampah domestik—membuat aliran air terhambat dan tak tertampung sungai C9 yang melebar sejauh 4 kilometer di hulu-hilir Selain itu, aktivitas tambang ilegal di pegunungan hulu disinyalir melepas lapisan penahan tanah, sehingga memperparah longsor dan aliran air saat hujan deras.
Dari pemetaan risiko ancaman banjir bandang, peserta merumuskan bersama Titik Kumpul, Jalur Evakuasi dan Tempat Evakuasi Akhir yang dirasa aman dari kejadian banjir di bulan Februari 2025
Semua hasil
pembentukan Destana selama tujuh hari disusun menjadi rencana penanggulangan
bencana yang akan diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan desa (RPJMDes
dan RKPDes) melalui Musrenbangdes. Sebagai wadah yang memastikan, mengawal dan
monitoring agar program berjalan, dibentuklah Forum Pengurangan Risiko Bencana
dengan Ketua Suryani.
Sebagai simbol
harapan, peserta menanam bibit pohon buah di lereng desa—membantu stabilisasi
tanah sekaligus menyediakan sumber pangan darurat jika banjir datang kembali.
Selesai menanam pohon, dilanjutkan dengan simulasi bencana banjir bandang di
desa Kendit.
Keberlanjutan Program Destana dan Harapan ke Depan
Program Destana
Kendit diharapkan bukan sekadar agenda sekali jalan. Desa telah menetapkan
latihan simulasi secara berkala—minimal setiap sekali dalam setahun—untuk
menguji dan memperkuat SOP evakuasi untuk respons bencana. Pengawasan
lingkungan seperti normalisasi sungai, pengelolaan sampah, hingga langkah
penegakan hukum terhadap aktivitas tambang ilegal diprioritaskan sebagai usulan
dalam koordinasi lintas lembaga, seperti BPBD, Satpol‑PP, dan pemerintah
kabupaten.
Pembentukan
Destana di Desa Kendit bukan sekadar respons terhadap bencana yang telah
terjadi, melainkan ikhtiar kolektif untuk membangun kesadaran, kesiapsiagaan,
dan kemandirian warga dalam menghadapi ancaman yang mungkin datang kembali.
Dari luka-luka yang ditinggalkan banjir, tumbuhlah tekad untuk menata masa
depan yang lebih waspada dan berdaya, agar desa yang indah ini tak lagi menjadi
langganan derita, melainkan contoh kekuatan masyarakat dalam menjaga ruang
hidupnya sendiri.
Ketangguhan Kendit telah terbangun dari praktik gotong royong, Pengurangan Risiko, dan
keberlanjutan mitigasi. Desa tak hanya belajar dari bencana, tapi
bertransformasi menjadi komunitas mandiri, waspada, dan hijau. Kehadiran
Destana memberi harapan baru: Kendit tak lagi pasrah, tapi siap berdiri
tegak saat alam berbicara lagi.
إرسال تعليق