Mengapa Desa Kendit Banjir Bandang dan Bagaimana Mitigasinya?


Kendit merupakan nama Desa yang terletak di Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo. Berada di daerah yang memiliki kontur tanah datar, dengan pemandangan alam yang indah. S
ecara geografis terletak pada titik koordinat 7°44′0″S 113°56′10″E  dengan ketinggian 11 meter diatas permukaan laut

Dari ibukota Provinsi Jawa Timur di Surabaya menuju Desa Kendit membutuhkan waktu kurang lebih empat jam perjalanan, dengan jarak ± 207 Km. Sementara dari Desa Kendit menuju Ibukota Kabupaten Situbondo ± 10,00 Km, sementara jarak menuju kantor Kecamatan ± 0,5 Km

Suasana pedesaan yang tenang dengan sawah yang mulai menguning, bukit yang menghijau, burung beterbangan menyimpan kedamaian alam yang memikat. Namun siapa sangka ketenangan itu tiba - tiba tergugat saat alam berbicara lewat gemuruh air—datang dalam bentuk banjir bandang.


Ketika Banjir Bandang Menyergap Kendit

Pada 24 Desember 2024, hujan deras mengguyur wilayah hulu di Desa Tambak Ukir dan Rajekwesi sejak siang hari. Dalam waktu singkat, air meluap dari Sungai Kendit Barat alias kanal avor C9 dan menerjang permukiman, menyapu rumah dan warung warga dengan arus deras membawa lumpur, kayu, dan sampah.

Seorang warga, Zainul Hasan menceritakan : "Sungai ini sebelumnya tidak pernah meluap. Namun dalam musim penghujan kali terjadi beberapa kali, yakni di bulan desember 2024 sebanyak dua kali dan bulan februari 2025 sekali namun cukup lama hingga 3 hari (3-5 februari) baru surut. Kalau di hitung dengan bersih bersih rumah dan fasul lebih dari seminggu. Banjir setinggi lutut orang dewasa menggenangi rumah penduduk. Tiga sapi dan satu sepeda motor terbawa arus, aliran listrik terputus. Warga sempat panik dan berlarian"


Gotong Royong sebagai Modal Awal Ketangguhan

Respon cepat segera diinisiasi. Pemdes Kendit bersama Koramil, Masyarakat, BPBD, TNI/Polri, Tagana, dan relawan Pramuka dan PMI menjalankan kerja bakti pembersihan lumpur dan material banjir dari jalan, rumah, dan fasilitas umum sejak pagi hari pasca-kejadian. Dalam derap langkah yang tak seragam tapi sepakat, warga Desa Kendit memanggul harapan dengan cangkul, sekop, dan tangan mereka sendiri.

Di balik genangan lumpur yang menutup jalan-jalan desa dan rumah-rumah yang basah oleh air murka alam, tumbuhlah kekuatan yang tak kasat mata namun terasa sampai ke dada: gotong royong. 

Gotong royong itu bukan hanya kerja. Ia adalah cinta yang menjelma menjadi tenaga, adalah duka yang diolah jadi daya. Maka desa yang sempat lunglai oleh banjir, perlahan bangkit, tidak karena datangnya bantuan bertruk-truk, tapi karena warga tak rela desanya tenggelam dalam diam.

 


Pembentukan Destana Kendit sebagai Langkah Mitigasi Jangka Panjang

Tiga bulan setelah banjir, tepatnya tanggal 21 Mei 2025, Desa Kendit memperkuat ketangguhan melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Dalam rangkaian kegiatan selama tujuh hari, perwakilan warga yang terdiri dari tigapuluh orang, didampingi oleh BPBD Situbondo, BPBD Provinsi Jawa Timur, dan fasilitator dari Sancaya Institute, bersama Pemerintah Desa Kendit menyiapkan strategi mitigasi: dari Pemetaan Risiko Bencana, Rencana Penanggulangan Bencana, Rencana Aksi Komunitas, Sistem Peringatan Dini dan Rencana Evakuasi hingga Rencana Kontinjensi.

Dari Pemetaan Risiko Bencana, banjir bandang menjadi ancaman prioritas. Faktor utama penyebab banjir bandang diidentifikasi peserta disebabkan curah hujan ekstrem di area hulu, terjadinya pendangkalan sungai oleh rumput gajah dan sampah domestik—membuat aliran air terhambat dan tak tertampung sungai C9 yang melebar sejauh 4 kilometer di hulu-hilir  Selain itu, aktivitas tambang ilegal di pegunungan hulu disinyalir melepas lapisan penahan tanah, sehingga memperparah longsor dan aliran air saat hujan deras. 

Dari pemetaan risiko ancaman banjir bandang, peserta merumuskan bersama Titik Kumpul, Jalur Evakuasi dan Tempat Evakuasi Akhir yang dirasa aman dari kejadian banjir di bulan Februari 2025



Semua hasil pembentukan Destana selama tujuh hari disusun menjadi rencana penanggulangan bencana yang akan diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan desa (RPJMDes dan RKPDes) melalui Musrenbangdes. Sebagai wadah yang memastikan, mengawal dan monitoring agar program berjalan, dibentuklah Forum Pengurangan Risiko Bencana dengan Ketua Suryani.

Sebagai simbol harapan, peserta menanam bibit pohon buah di lereng desa—membantu stabilisasi tanah sekaligus menyediakan sumber pangan darurat jika banjir datang kembali. Selesai menanam pohon, dilanjutkan dengan simulasi bencana banjir bandang di desa Kendit.

 


Keberlanjutan Program Destana dan Harapan ke Depan

Program Destana Kendit diharapkan bukan sekadar agenda sekali jalan. Desa telah menetapkan latihan simulasi secara berkala—minimal setiap sekali dalam setahun—untuk menguji dan memperkuat SOP evakuasi untuk respons bencana. Pengawasan lingkungan seperti normalisasi sungai, pengelolaan sampah, hingga langkah penegakan hukum terhadap aktivitas tambang ilegal diprioritaskan sebagai usulan dalam koordinasi lintas lembaga, seperti BPBD, Satpol‑PP, dan pemerintah kabupaten.

Pembentukan Destana di Desa Kendit bukan sekadar respons terhadap bencana yang telah terjadi, melainkan ikhtiar kolektif untuk membangun kesadaran, kesiapsiagaan, dan kemandirian warga dalam menghadapi ancaman yang mungkin datang kembali. Dari luka-luka yang ditinggalkan banjir, tumbuhlah tekad untuk menata masa depan yang lebih waspada dan berdaya, agar desa yang indah ini tak lagi menjadi langganan derita, melainkan contoh kekuatan masyarakat dalam menjaga ruang hidupnya sendiri.

Ketangguhan Kendit telah terbangun dari praktik gotong royong, Pengurangan Risiko, dan keberlanjutan mitigasi. Desa tak hanya belajar dari bencana, tapi bertransformasi menjadi komunitas mandiri, waspada, dan hijau. Kehadiran Destana memberi harapan baru: Kendit tak lagi pasrah, tapi siap berdiri tegak saat alam berbicara lagi.

  


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

أحدث أقدم