Menanam Buah Membuahkan Perubahan : Cerita Pembentukan DESTANA di Desa Bulugunung, Magetan

Surga dunia, demikian kesan pertama ketika memasuki wilayah Desa Bulugunung Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur. Wilayahnya terletak di lembah gunung Lawu di sisi sebelah timur, udaranya sejuk dan alamnya hijau. Sepanjang mata memandang, nampak bukit hijau yang merupakan perbukitan Gunung Lawu. Di sela – sela warna hijau, nampak juga warna merah yang berasal dari tanaman sayur dan buah berwarna merah seperti tomat, cabai dan buah strawberry. Ada juga warna kuning emas dari padi yang mulai menguning dengan model tanam terasering. Gemericik air yang mengalir dari atas gunung Lawu, mengalir ke bawah melewati Kecamatan Plaosan dan Desa Bulugunung, menjadi irama pagi yang indah bersama dengan suara burung. Rumah tertata rapi berhimpitan dengan atap coklat terlihat dari atas desa Bulugunung, menambah warna warni pemandangan desa Bukugunung. 

Desa Bulugunung, yang selama ini dikenal dengan keindahan alamnya, namun dalam kurun waktu lima tahun terakhir, menghadapi ancaman serius dari bencana alam yang semakin intens akibat perubahan iklim. Curah hujan yang tidak menentu, angin kencang yang lebih sering terjadi, serta peningkatan potensi longsor menjadi persoalan baru yang muncul di desa. Ancaman bencana hidro-meteorologi, yakni bencana yang disebabkan oleh faktor cuaca dan hidrologi seperti banjir, angin kencang, dan longsor, menjadi semakin nyata. Keadaan ini semakin diperburuk oleh perubahan iklim yang menyebabkan pola curah hujan yang lebih ekstrem dan tidak terduga di langit Bulugunung.

Menyadari tantangan ini, masyarakat Desa Bulugunung berupaya keras untuk menanggapi ancaman bencana yang semakin meningkat dengan pendekatan gotong royong warga. Namun belum memiliki tata kelola yang holistik dan berkelanjutan. Melihat hal ini, BPBD Kabupaten Magetan mengusulkan kepada BPBD Provinsi Jawa Timur untuk dilakukan pelatihan dan pembentukan Desa Tangguh Bencana, yang bertujuan untuk memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana, serta memanfaatkan kekayaan alam dan potensi lokal sebagai salah satu langkah mitigasi yang efektif. Usulan Pembentukan Destana ini yang kemudian didukung penuh oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur dengan melibatkan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur dan Sancaya Institute. 

Ancaman Bencana di Desa Bulugunung

Sutarjo, Kepala Desa Bukugunung menjelaskan bahwa wilayah desa terletak di daerah dataran tinggi dengan topografi berbukit dan lembah, sehingga Desa Bulugunung memiliki potensi ancaman bencana alam yang cukup besar, yang semakin diperburuk oleh perubahan iklim. Beberapa bencana yang sering terjadi di desa ini antara lain:

  1. Banjir: Curah hujan yang tinggi pada musim tertentu seringkali menyebabkan peningkatan debit aliran air dari hulu ke hilir, hal ini mengakibatkan banjir di beberapa titik di desa. Peningkatan curah hujan yang ekstrim, memperburuk risiko ini. Hal lain adalah faktor sungai kecil yang mengalami pendangkalan serta sampah plastik yang masih banyak ditemukan di aliran sungai
  2. Angin Kencang: Desa Bulugunung juga sering dilanda angin kencang, terutama saat musim peralihan. Hal ini disebabkan karena perbedaan topografi desa. Angin berhembus dari dataran tinggi menuju dataran rendah atau sebaliknya. Angin yang terjadi karena pergantian cuaca yang mendadak dari panas ke dingin, berpotensi terjadi angin kencang yang merusak infrastruktur serta pertanian warga. Angin kencang yang semakin sering muncul dapat merusak tanaman pertanian dan rumah-rumah warga, mengingat semakin tidak terduga cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim.
  3. Longsor: Dataran berbukit dengan banyak lereng terjal membuat desa bulugunung  juga rawan terjadi longsor, terutama saat musim hujan yang mengguyur daerah tersebut dalam waktu yang lama potensi longsor di desa ini semakin tinggi.


Pembentukan Desa Tangguh Bencana: Sebuah Inisiatif Komunitas
Menyadari adanya ancaman-ancaman tersebut, masyarakat Desa Bulugunung bersama dengan pihak terkait seperti pemerintah desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Magetan, dan berbagai lembaga masyarakat desa lainnya, sepakat untuk membentuk Desa Tangguh Bencana. Tujuan utamanya adalah agar desa ini memiliki kemampuan untuk memitigasi, mengurangi risiko, dan menghadapi bencana yang mungkin datang, serta mempersiapkan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Kegiatan Pembentukan Desa Tangguh Bencana dilakukan selama tujuh hari, dimulai pada hari Rabu, 11 Juni 2025 hingga 17 Juni 2025. Peserta sejumlah tigapuluh orang yang merupakan representasi perwakilan dukuh atau dusun, lembaga desa, kelompok perempuan dan disabilitas.

Acara dibuka dengan ucapan selamat datang dari Kepala Desa Bulugunung, Sutarjo dan penjelasan singkat tentang bencana yang pernah terjadi di Desa Bulugunung. Dilanjutkan dengan laporan penyelenggaraan kegiatan Destana oleh Tenaga Ahli Kebencanaan BPBD Provinsi Jawa Timur, Bige Agus Wahjuono, SE,  kemudian sambutan Plt. Kalaksa BPBD Magetan. Pembukaan acara sekaligus arahan dilakukan oleh Sekretaris BPBD Provinsi Jawa Timur, Andhika Nurrahmad Sudigda, ST, M.Si, yang menjelaskan pembentukan Destana merupakan konsep pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengurangi risiko bencana, membangun ketahanan sosial dan ekonomi, serta membangun kesadaran kolektif akan bencana yang menjadi salah satu program dari BPBD Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan BPBD Kabupaten Magetan dan Pemdes Bulugunung.



Proses pembentukan Desa Tangguh Bencana partisipatif menghasilkan beberapa langkah penting:

  1. Pemetaan Risiko Bencana: Peserta bersama fasilitator memetakan titik-titik rawan bencana seperti area yang sering terkena banjir, potensi longsor, serta daerah yang rentan terhadap angin kencang.
  2. Rencana Penanggulangan Bencana : Setelah melakukan Pemetaan dan peserta memahami sebab dari persoalan yang ada, maka di susun Rencana Peanggulangan Bencana yang meliputi fase pra bencana, saat bencana dan pasca bencana
  3. Pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) : Setelah rencana tersusun, di butuhkan Lembaga atau wadah yang akan mengawal, menjalankan sekaligus monitoring pelaksanaan rencana. Maka dibentuklah Forum Pengurangan Risiko Bencana tingkat Desa yang melibatkan perwakilan seluruh komponen desa.
  4. Pelatihan Kesiapsiagaan: Peserta juga mengadakan pelatihan dan simulasi bencana. Dengan melibatkan perwakilan warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak, pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka jika terjadi bencana yang mengancam.
  5. Rekomendasi Pembangunan Infrastruktur yang Tangguh: Pemerintah desa juga bekerja sama dengan BPBD untuk meningkatkan ketangguhan infrastruktur. Tahap awal dengan menetapkan Sistem Peringatan Dini, Titik Kumpul, Jalur Evakuasi dan Tempat Evakuasi Akhir.

Menanam Buah Membuahkan Perubahan

Konsep "menanam buah membuahkan perubahan" menjadi salah satu simbol penting dalam pembentukan Desa Tangguh Bencana di Desa Bulugunung. Selain membangun kesiapsiagaan melalui pelatihan dan pembangunan infrastruktur, masyarakat desa juga diajak untuk menanam pohon dan menjaga kelestarian lingkungan, dengan tujuan : 

1. Reboisasi dan Pemeliharaan Lingkungan

Salah satu langkah yang diambil adalah melakukan reboisasi atau penanaman pohon di sepanjang lereng-lereng bukit Desa Bulugung. Pohon-pohon ini tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan dan pencegah erosi, tetapi juga dapat menjadi penahan angin dan membantu memperlambat aliran air hujan, yang dapat mengurangi risiko longsor dan banjir. Tanaman seperti pohon alpukat, dan jambu air dipilih karena memiliki akar yang kuat serta memberikan manfaat ekonomi bagi warga desa.

2. Pertanian Ramah Bencana

Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan, desa ini juga mengembangkan pertanian yang ramah bencana. Dengan menanam tanaman buah yang tahan terhadap cuaca ekstrem dan memiliki potensi ekonomi tinggi, desa ini berharap dapat mengurangi kerugian akibat bencana. Selain itu, pertanian berbasis agroforestri juga menjadi kesepakatan masyarakat, di mana mereka dapat menanam pohon buah dan tanaman lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus berfungsi untuk mitigasi bencana.

3. Ekonomi Berkelanjutan

Menanam buah tidak hanya memberikan dampak positif dalam hal mitigasi bencana, tetapi juga berpotensi mendukung perekonomian masyarakat desa. Hasil buah yang melimpah dapat dipasarkan baik untuk kebutuhan lokal maupun menjadi produk unggulan yang bisa diekspor ke luar daerah. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pendapatan tambahan dan meningkatkan ketahanan ekonomi mereka.



Keberlanjutan Program Desa Tangguh Bencana

Pembentukan Desa Tangguh Bencana di Bulugunung bukan hanya merupakan upaya sesaat, tetapi diharapkan menjadi sebuah gerakan jangka panjang. Melalui keberlanjutan program ini, diharapkan dapat tercipta perubahan yang signifikan, baik dari segi kesiapsiagaan bencana maupun kesejahteraan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dengan pendekatan berbasis lingkungan hidup ini diharapkan dapat menanamkan kesadaran tentang pentingnya ketangguhan dalam menghadapi bencana. Seperti halnya menanam pohon yang membutuhkan waktu untuk berbuah, proses pembangunan desa tangguh juga membutuhkan waktu, komitmen, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.

Dengan tekad yang kuat dan langkah-langkah yang tepat, Desa Bulugunung akan membuktikan bahwa menanam buah hari ini akan membuahkan perubahan besar di masa depan: tidak hanya dalam hal kesiapsiagaan bencana, tetapi juga dalam hal kesejahteraan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat. Desa Bulugunung bukan hanya sekadar desa yang tangguh, tetapi juga desa yang berkembang dengan semangat kebersamaan dan keberlanjutan.


  









Post a Comment

أحدث أقدم